Jakarta, 22 September 2026 – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam layanan kesehatan Indonesia mulai diuji langsung melalui konsultasi pasien di dunia nyata. Teknologi AI yang dikembangkan Alodokter dievaluasi melalui penelitian yang melibatkan peneliti dari Stanford University dan University of California, Berkeley. Studi tersebut menganalisis 402 konsultasi dokter umum berbasis telemedisin yang mendapatkan dukungan AI. Dari jumlah itu, 397 konsultasi atau sekitar 98,8 persen diklasifikasikan aman secara klinis berdasarkan konsensus panel dokter. Temuan ini memberikan gambaran awal mengenai penggunaan AI sebagai pendamping dokter dalam layanan telemedisin.
Penelitian bertajuk Assessing the Clinical Safety of an AI Assistant in Indonesian Chat-Based Telemedicine menggunakan konsultasi pasien yang telah dianonimkan. Setiap konsultasi diperiksa secara independen oleh tiga dokter Indonesia menggunakan 14 kriteria keselamatan medis. Evaluasi dilakukan terhadap penggunaan AI dalam rangkaian konsultasi nyata, bukan hanya berdasarkan pertanyaan atau skenario medis yang sebelumnya telah disiapkan. Pendekatan tersebut digunakan karena kondisi pasien dalam praktik sehari-hari dapat jauh lebih beragam dan sulit diprediksi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar rekomendasi yang muncul dalam konsultasi memenuhi tolok ukur keselamatan klinis yang digunakan dalam studi.
Dalam penerapannya, AI tersebut tidak ditempatkan sebagai pengganti dokter. Teknologi bekerja sebagai asisten yang membantu mengumpulkan informasi pasien, mengenali kemungkinan tanda bahaya, serta memetakan risiko yang perlu diperhatikan selama konsultasi. Sistem juga dapat membantu mempertimbangkan risiko terkait obat, pilihan penanganan, kebutuhan rujukan, dan tindak lanjut. Rekomendasi yang dihasilkan kemudian diperiksa kembali oleh dokter yang menangani pasien. Diagnosis resmi, keputusan terapi, dan pemberian resep tetap menjadi kewenangan tenaga medis.
Model tersebut berbeda dengan penggunaan chatbot AI umum yang dapat memberikan jawaban langsung kepada pengguna tanpa keterlibatan tenaga kesehatan. Dalam konsultasi yang diteliti, pasien tetap berinteraksi dengan dokter, sementara AI bekerja di belakang proses tersebut untuk membantu mengolah informasi klinis. Pendekatan ini ditujukan agar dokter dapat memperoleh dukungan teknologi tanpa menyerahkan keputusan medis kepada sistem otomatis. Informasi penting yang muncul selama percakapan dapat ditandai sehingga dokter mempunyai bahan tambahan ketika mempertimbangkan langkah berikutnya. Keputusan akhir tetap membutuhkan penilaian klinis dari dokter.
Associate Professor UC Berkeley sekaligus salah satu penulis studi, Ziad Obermeyer, menekankan pentingnya menguji teknologi kesehatan dalam situasi yang mendekati praktik sebenarnya. Pengujian menggunakan kasus yang telah ditentukan sebelumnya belum tentu mampu menggambarkan kompleksitas konsultasi pasien. Kondisi nyata dapat melibatkan informasi yang tidak lengkap, keluhan beragam, penggunaan obat, hingga kemungkinan kebutuhan rujukan. Karena itu, evaluasi terhadap ratusan konsultasi telemedisin nyata dinilai dapat memberikan gambaran lebih relevan mengenai keamanan sistem. Penelitian tersebut berfokus pada keselamatan klinis dalam konteks penggunaan AI sebagai pendamping tenaga medis.
Meski hasil awal menunjukkan 98,8 persen konsultasi diklasifikasikan aman, penelitian tersebut juga menemukan ruang yang masih perlu diperbaiki. Salah satu perhatian berada pada penanganan kondisi yang membutuhkan rujukan segera. Pengamanan terkait ketepatan dosis obat untuk pasien anak juga menjadi area yang perlu diperkuat. Temuan tersebut akan digunakan untuk menyempurnakan sistem sebelum pemanfaatannya diperluas. Dengan demikian, angka 98,8 persen tidak berarti teknologi tersebut sepenuhnya bebas dari risiko atau dapat bekerja tanpa pengawasan dokter.
Head of Medical Content and Marketing Alodokter, dr. Marianti, mengatakan masyarakat semakin tertarik menggunakan AI karena menawarkan akses informasi yang cepat dan praktis. Namun, menurut dia, kecepatan memperoleh jawaban tidak selalu sama dengan memperoleh penanganan medis yang tepat. Karena itu, AI dalam layanan tersebut diarahkan untuk membantu dokter memahami informasi pasien dan mempertimbangkan penanganan yang sesuai. Pasien tetap mendapatkan konsultasi dengan tenaga medis, sementara teknologi memberikan dukungan selama proses berlangsung. Data internal perusahaan juga mencatat 98 persen konsultasi dokter umum yang menggunakan dukungan AI memperoleh ulasan positif dari pasien.
Pengembangan AI kesehatan juga menghadapi tantangan yang lebih luas, terutama berkaitan dengan perlindungan data pasien. Kementerian Kesehatan sebelumnya menyoroti pentingnya standar dalam pengambilan dan penyimpanan data pada teknologi kesehatan berbasis AI. Penggunaan informasi medis membutuhkan perlindungan karena menyangkut data pribadi yang sensitif. Selain keselamatan klinis, tata kelola data dan mekanisme pengawasan menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi medis berbasis kecerdasan buatan. Regulasi yang berkembang perlu memastikan inovasi dapat berjalan tanpa mengurangi perlindungan terhadap pasien.
President Director dan Co-Founder Alodokter Suci Arumsari menilai kompleksitas layanan kesehatan Indonesia dapat menjadi dasar pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam negeri. Kondisi geografis yang luas dan kebutuhan kesehatan yang beragam menjadi tantangan tersendiri dalam menyediakan akses layanan secara konsisten. Telemedisin dan dukungan AI berpotensi membantu tenaga kesehatan menangani informasi dalam skala lebih besar. Namun, implementasinya tetap membutuhkan evaluasi berkelanjutan untuk memastikan teknologi benar-benar memberikan manfaat kepada pasien. Pengujian melalui konsultasi nyata menjadi salah satu langkah untuk mengukur kemampuan tersebut sebelum pengembangan berikutnya.
Tahap penelitian selanjutnya direncanakan menggunakan uji acak terkontrol atau randomized controlled trial bersama tim peneliti. Pengujian lanjutan tersebut ditujukan untuk mempelajari dampak penggunaan AI terhadap kualitas layanan dan keselamatan pasien secara lebih mendalam. Hasilnya diharapkan dapat memberikan data tambahan bagi pengembangan standar keselamatan AI klinis di Indonesia. Temuan awal dari 402 konsultasi menunjukkan potensi teknologi sebagai pendamping dokter, tetapi pengawasan tenaga medis tetap menjadi bagian utama dari sistem. Perkembangan penelitian berikutnya akan menjadi penting untuk menentukan bagaimana AI dapat diterapkan secara lebih luas dan aman dalam layanan kesehatan Indonesia.





