Jakarta, 2 September 2026 – Nama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjadi perhatian publik seiring munculnya perbincangan mengenai perubahan status desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Persoalan tersebut mendapat sorotan karena posisi desil dapat digunakan sebagai salah satu rujukan dalam penentuan sasaran sejumlah program pemerintah, termasuk bantuan sosial dan program pendidikan. Di tengah polemik tersebut, Amalia tampil memberikan penjelasan mengenai cara membaca desil dan mekanisme pemutakhiran data. Sosoknya pun ikut menjadi perhatian, termasuk latar belakang pendidikan serta perjalanan kariernya sebelum dipercaya memimpin BPS.
Amalia Adininggar Widyasanti yang akrab disapa Winny lahir di Bogor pada 5 Maret 1972. Ia memiliki perjalanan profesional panjang dalam bidang perencanaan pembangunan, ekonomi, perdagangan internasional, hingga statistik. Sebelum berada di pucuk pimpinan BPS, sebagian besar perjalanan birokrasi Amalia dijalani di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Ia mulai bergabung dengan institusi tersebut sejak 1999 dan kemudian dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis.
Perjalanan pendidikan Amalia menarik karena menggabungkan disiplin teknik dan ekonomi. Ia menempuh pendidikan sarjana Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berhasil memperoleh gelar Sarjana Teknik pada 1995. Pendidikan tersebut memberikan dasar keilmuan yang kuat dalam pendekatan kuantitatif dan analitis. Setelah menyelesaikan jenjang sarjana, Amalia tetap melanjutkan pendidikan di ITB dan memperoleh gelar Magister Sains pada 1997.
Tidak berhenti di Indonesia, Amalia kemudian melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Ia menempuh studi di Rensselaer Polytechnic Institute yang berada di Troy, New York. Dari perguruan tinggi tersebut, Amalia mendapatkan gelar Master of Engineering pada 1998. Pengalaman pendidikan di luar negeri kemudian semakin memperluas bidang yang dikuasainya sebelum akhirnya beralih lebih jauh ke ranah ekonomi dan kebijakan pembangunan.
Jenjang pendidikan tertinggi Amalia ditempuh di University of Melbourne, Australia. Ia berhasil mendapatkan gelar Doctor of Philosophy atau Ph.D. dalam bidang Ekonomi pada 2005. Latar belakang tersebut membuat Amalia memiliki kombinasi pendidikan teknik dan ekonomi yang kemudian banyak digunakan dalam perjalanan kariernya sebagai birokrat. Bidang keahliannya berkembang mencakup ekonomi makro, ekonomi internasional dan moneter, perdagangan internasional, ekonomi pembangunan, serta pemodelan ekonomi.
Dalam perjalanan kariernya di Bappenas, Amalia pernah dipercaya sebagai Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerja Sama Ekonomi Internasional. Ia juga pernah menjabat Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik. Pengalamannya kemudian berlanjut sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan serta Deputi Bidang Ekonomi. Sebelum dipercaya memimpin BPS, salah satu jabatan terakhir yang diembannya adalah Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Inovasi Digital.
Amalia mulai mendapatkan tugas langsung di BPS ketika dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Kepala BPS pada 17 Juli 2023. Setelah menjalankan tugas tersebut selama lebih dari satu tahun, Presiden Prabowo Subianto kemudian melantiknya sebagai Kepala BPS definitif pada 19 Februari 2025 di Istana Negara, Jakarta. Dalam pelantikan yang sama, Sonny Harry Budiutomo Harmadi dipercaya menjadi Wakil Kepala BPS. Posisi tersebut menempatkan Amalia sebagai figur penting dalam penyediaan dan pengelolaan berbagai data statistik yang digunakan pemerintah untuk menyusun kebijakan.
Namanya kembali banyak diperbincangkan pada 2026 setelah muncul polemik mengenai status desil dalam DTSEN. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah adanya masyarakat yang merasa posisi desilnya tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya. Amalia menjelaskan bahwa desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya. Keluarga diperingkatkan menggunakan berbagai karakteristik sosial ekonomi dan kemudian dibagi menjadi 10 kelompok, masing-masing mencakup sekitar 10 persen keluarga.
Dalam sistem tersebut, desil 1 menggambarkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi. Amalia menekankan bahwa angka tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi sebuah keluarga. Posisi desil bersifat relatif karena membandingkan kondisi suatu keluarga dengan keluarga lainnya berdasarkan sejumlah karakteristik sosial ekonomi. Data juga dapat mengalami pemutakhiran ketika terdapat perubahan atau ditemukan informasi terbaru mengenai kondisi keluarga.
Dengan latar pendidikan Teknik Kimia dari ITB, Master of Engineering dari Amerika Serikat, hingga doktor Ekonomi dari University of Melbourne, Amalia memiliki perjalanan akademik lintas disiplin sebelum akhirnya memimpin lembaga statistik nasional. Pengalaman panjang di Bappenas juga membuat sebagian besar perjalanan profesionalnya bersinggungan dengan perencanaan ekonomi dan pengolahan informasi untuk kebijakan pembangunan. Kini, sebagai Kepala BPS, Amalia menghadapi tantangan memastikan data statistik dan DTSEN semakin akurat serta dapat dipahami masyarakat, terutama ketika data tersebut menjadi rujukan bagi berbagai kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.




