Jakarta, 9 Mei 2026 – Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization atau WHO meminta masyarakat di Tenerife dan kawasan sekitarnya untuk tidak panik terkait kasus hantavirus yang belakangan menjadi perhatian publik. WHO menegaskan bahwa hantavirus bukan “Covid baru” dan memiliki karakter penularan yang sangat berbeda dibanding pandemi Covid-19 sebelumnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah meningkatnya kekhawatiran masyarakat menyusul laporan kasus hantavirus di wilayah Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol. Isu tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu kekhawatiran akan potensi munculnya wabah baru di Eropa.
WHO menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan melalui paparan urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi, terutama tikus. Berbeda dengan Covid-19, hantavirus tidak menyebar dengan cepat melalui interaksi sosial biasa antar manusia dalam sebagian besar kasus.
Pengamat kesehatan masyarakat menilai kekhawatiran publik meningkat karena masyarakat dunia masih memiliki trauma besar terhadap pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan berbagai negara. Karena itu, setiap muncul laporan penyakit baru sering langsung memicu kecemasan luas di media sosial.
Pihak kesehatan setempat di Tenerife disebut telah meningkatkan pengawasan dan melakukan pelacakan terhadap kasus yang muncul. Masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan area yang berpotensi terkontaminasi hewan pengerat.
WHO menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada indikasi hantavirus memiliki pola penyebaran global seperti Covid-19. Organisasi tersebut juga menyebut sistem kesehatan internasional kini jauh lebih siap dalam melakukan pemantauan penyakit menular dibanding beberapa tahun lalu.
Pengamat epidemiologi menjelaskan bahwa hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru. Virus ini telah dikenal sejak lama dan pernah muncul di berbagai negara, termasuk di kawasan Amerika, Eropa, dan Asia, meski jumlah kasusnya relatif lebih terbatas dibanding penyakit menular lain.
Gejala hantavirus sendiri dapat bervariasi, mulai dari demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan pada kasus tertentu. Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala setelah terpapar lingkungan yang berisiko.
Selain edukasi publik, otoritas kesehatan juga terus melakukan sosialisasi mengenai pentingnya pengendalian populasi tikus dan menjaga sanitasi lingkungan. Langkah pencegahan dinilai menjadi faktor utama untuk mengurangi risiko penularan hantavirus.
Pengamat kesehatan global menilai komunikasi yang jelas dari WHO sangat penting untuk mencegah kepanikan berlebihan dan penyebaran informasi yang tidak akurat di media sosial. Setelah pengalaman pandemi Covid-19, isu kesehatan kini lebih cepat memicu reaksi publik secara global.
WHO meminta masyarakat tetap waspada namun tidak panik, serta mengikuti arahan resmi dari otoritas kesehatan setempat. Organisasi tersebut menegaskan bahwa situasi hantavirus saat ini masih berbeda jauh dibanding kondisi pandemi global yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.






