Bandung, 2 November 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai dan tomat, menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada Oktober 2026. Meskipun harga kebutuhan pokok mengalami fluktuasi, kondisi inflasi di Jawa Barat secara keseluruhan masih berada pada tingkat yang terkendali. Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengungkapkan bahwa inflasi bulanan pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,20 persen. Sementara itu, inflasi berdasarkan tahun kalender mencapai 2,31 persen dan inflasi tahunan berada pada level 2,90 persen. Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga masih dapat diimbangi oleh penurunan sejumlah komoditas lain yang dikonsumsi masyarakat. BPS menilai stabilitas harga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kegiatan ekonomi daerah. Pemantauan terhadap perkembangan harga pangan terus diperlukan karena perubahan pasokan dan kondisi cuaca masih berpotensi memengaruhi harga di pasar tradisional maupun pusat perdagangan modern. Bisnis.com
Dalam penyampaian Berita Resmi Statistik secara daring pada Senin, 2 November 2026, Margaretha menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan Jawa Barat. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,41 persen dengan kontribusi terhadap inflasi umum mencapai 0,12 poin persentase. Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas hortikultura yang banyak digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Cabai rawit, cabai merah, dan tomat menjadi beberapa komoditas yang mengalami tekanan harga cukup menonjol selama Oktober. Perubahan harga bahan pangan tersebut memiliki pengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga karena termasuk kebutuhan yang dibeli secara rutin. BPS menjelaskan bahwa tekanan harga pada kelompok pangan belum menyebabkan inflasi keseluruhan meningkat secara berlebihan. Hal tersebut disebabkan adanya pergerakan harga yang berlawanan pada sejumlah komoditas lain sehingga kenaikan harga pangan dapat tertahan. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya keseimbangan pasokan dan permintaan dalam menjaga stabilitas harga konsumen di Jawa Barat. Bisnis.com
Kenaikan harga cabai dan tomat tidak terlepas dari pengaruh kondisi cuaca yang memengaruhi kegiatan produksi pertanian di sejumlah wilayah. BPS mencatat bahwa kemarau panjang menjadi salah satu penyebab terbatasnya pasokan komoditas hortikultura di tingkat pasar. Selain itu, gangguan hama patek turut memengaruhi hasil produksi cabai sehingga jumlah barang yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen mengalami tekanan. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan masyarakat tetap berlangsung, harga komoditas cenderung mengalami peningkatan. Kondisi tersebut dapat memberikan dampak lebih besar terhadap pedagang dan konsumen yang membutuhkan bahan pangan dalam jumlah rutin. Pelaku usaha makanan juga dapat menghadapi peningkatan biaya produksi apabila harga cabai dan tomat bertahan pada tingkat tinggi dalam waktu cukup lama. Oleh karena itu, pemantauan kondisi pertanian dan distribusi hasil panen menjadi penting untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga berikutnya. Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memperhatikan kelancaran pasokan dari sentra produksi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Bisnis.com+1
Di tengah kenaikan harga komoditas hortikultura, BPS mencatat sejumlah bahan pangan justru mengalami penurunan harga sehingga membantu menahan laju inflasi Jawa Barat. Daging ayam ras dan telur ayam ras termasuk komoditas yang memberikan tekanan penurunan harga akibat ketersediaan pasokan yang relatif melimpah. Penurunan harga kedua komoditas tersebut memberikan manfaat bagi konsumen karena dapat mengurangi sebagian pengeluaran untuk kebutuhan protein hewani. Selain itu, harga beras yang sebelumnya menjadi salah satu perhatian dalam pengendalian inflasi mulai menunjukkan kecenderungan menurun pada Oktober 2026. Perkembangan tersebut menjadi faktor positif mengingat beras merupakan kebutuhan pokok yang memiliki porsi penting dalam pengeluaran rumah tangga. BPS juga mencatat penurunan harga emas perhiasan yang mengikuti pergerakan harga emas di pasar internasional. Kombinasi penurunan harga pada sejumlah komoditas tersebut membantu mengimbangi tekanan dari kenaikan harga cabai dan tomat. Dengan demikian, inflasi bulanan Jawa Barat tetap berada pada tingkat relatif rendah meskipun beberapa kebutuhan pangan mengalami kenaikan harga. Bisnis.com
Perkembangan inflasi di Jawa Barat juga menunjukkan adanya perbedaan kondisi harga antardaerah yang dipengaruhi karakteristik pasar dan aktivitas konsumsi masyarakat. Berdasarkan catatan BPS, Kota Bogor mengalami inflasi bulanan tertinggi pada Oktober 2026 sebesar 0,35 persen. Tekanan harga di wilayah tersebut berkaitan dengan tingginya permintaan konsumsi domestik yang memengaruhi pergerakan sejumlah komoditas. Sebaliknya, Kota Bandung mencatat inflasi bulanan terendah sebesar 0,08 persen pada periode yang sama. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga tidak selalu terjadi dengan tingkat yang sama di setiap wilayah meskipun masih berada dalam satu provinsi. Faktor distribusi barang, ketersediaan pasokan lokal, pola konsumsi, serta kondisi perdagangan dapat memengaruhi perbedaan tingkat inflasi antardaerah. Karena itu, kebijakan pengendalian harga perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah agar penanganannya lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat pertukaran informasi harga untuk mendeteksi potensi gangguan pasokan sebelum berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih besar. Bisnis.com
Secara nasional, BPS mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 0,22 persen secara bulanan dengan kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat sebagai penyumbang utama. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,51 persen dan memberikan kontribusi 0,15 poin persentase terhadap inflasi nasional. Cabai merah menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar sebesar 0,13 poin persentase, disusul cabai rawit sebesar 0,05 poin persentase dan tomat sebesar 0,04 poin persentase. Komoditas sayuran lain seperti sawi hijau, labu siam, dan sawi putih juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga konsumen. Berdasarkan komponen inflasi, kelompok harga bergejolak mengalami kenaikan tertinggi sebesar 0,77 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 0,12 persen dan kelompok harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,09 persen. Data nasional tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga pangan tidak hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi juga memengaruhi perkembangan inflasi di berbagai provinsi. Meski demikian, tingkat inflasi Jawa Barat yang sebesar 0,20 persen secara bulanan masih sedikit lebih rendah dibandingkan angka inflasi nasional pada periode yang sama. ANTARA News
BPS Jawa Barat menilai kondisi inflasi yang masih terkendali dapat menjadi faktor pendukung bagi pertumbuhan ekonomi daerah menjelang akhir 2026. Stabilitas harga diperlukan untuk menjaga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam merencanakan kegiatan ekonomi. Namun, perkembangan harga komoditas pangan tetap perlu mendapatkan perhatian karena sangat dipengaruhi perubahan musim, gangguan produksi, dan kelancaran distribusi. Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat koordinasi dengan produsen, distributor, serta pengelola pasar untuk menjaga ketersediaan barang pada tingkat yang memadai. Pengawasan terhadap rantai pasok juga dapat membantu memastikan perubahan harga mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan yang sebenarnya. Selain itu, penguatan produksi pertanian dan distribusi antardaerah menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko lonjakan harga ketika terjadi gangguan panen. Masyarakat diharapkan memperoleh manfaat dari stabilitas harga yang lebih terjaga, terutama menjelang periode akhir tahun ketika aktivitas konsumsi berpotensi meningkat. Dengan pengendalian pasokan yang konsisten dan pemantauan harga secara berkelanjutan, Jawa Barat diharapkan mampu mempertahankan inflasi pada tingkat yang terkendali sekaligus mendukung daya beli dan pertumbuhan ekonomi daerah. Bisnis.com+1




