Jakarta, 14 Mei 2026 – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengakui bahwa Washington sedang berupaya membujuk China agar menggunakan pengaruhnya terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait situasi di Selat Hormuz. Rubio menyebut Amerika Serikat berharap China dapat memainkan peran lebih aktif untuk mendorong Iran menurunkan eskalasi dan menjaga jalur pelayaran strategis tersebut tetap terbuka bagi perdagangan global.
Pernyataan Rubio muncul saat ketegangan di kawasan Teluk meningkat akibat ancaman gangguan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur laut penting yang menjadi salah satu pusat distribusi minyak dunia. Amerika Serikat menilai China memiliki posisi penting karena hubungan ekonomi dan diplomatik Beijing dengan Tehran cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir. Washington berharap pengaruh tersebut dapat digunakan untuk menekan Iran agar tidak memperburuk situasi yang dapat mengganggu stabilitas energi global.
Rubio juga menegaskan bahwa keterlibatan China sebenarnya sejalan dengan kepentingannya sendiri karena negara tersebut sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap ekonomi global, termasuk perdagangan dan ekspor China yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas jalur logistik internasional. Menurut Rubio, konflik berkepanjangan di kawasan itu berpotensi merugikan seluruh negara besar, termasuk China sendiri.
Di sisi lain, China sebelumnya juga telah menyatakan pentingnya menjaga keterbukaan jalur pelayaran internasional dan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Meski memiliki hubungan dekat dengan Iran, Beijing tetap menaruh perhatian besar terhadap stabilitas perdagangan global karena Selat Hormuz menjadi salah satu jalur vital bagi kebutuhan energi dan aktivitas ekspor-impor dunia. Situasi ini membuat China berada dalam posisi strategis sekaligus sensitif di tengah persaingan geopolitik antara Washington dan Tehran.
Pernyataan Rubio memperlihatkan bagaimana isu Timur Tengah kini semakin melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan global. Banyak pengamat menilai komunikasi antara Amerika Serikat dan China terkait Iran menunjukkan bahwa meski kedua negara bersaing dalam banyak bidang, keduanya tetap memiliki kepentingan bersama untuk mencegah krisis yang lebih luas di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Dunia internasional kini terus memantau apakah tekanan diplomatik terhadap Iran dapat membantu meredakan ketegangan dan menjaga jalur perdagangan energi tetap aman bagi perekonomian global.






