Jakarta, 29 Oktober 2026 – Kebiasaan membaca novel ternyata memiliki potensi manfaat bagi kesehatan otak, terutama dalam membantu menjaga kemampuan memahami informasi dan memusatkan perhatian. Temuan tersebut kembali menjadi perhatian setelah dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, membagikan hasil penelitian mengenai hubungan antara aktivitas membaca cerita fiksi dan konektivitas otak. Melalui unggahan di media sosial Threads, Adam menjelaskan bahwa membaca novel dapat merangsang sejumlah bagian otak yang berperan dalam pemahaman cerita, pengolahan pengalaman, dan kemampuan melihat sudut pandang orang lain. Aktivitas tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan. Fenomena yang dikenal dengan istilah brain rot belakangan banyak dibicarakan karena berkaitan dengan kekhawatiran terhadap menurunnya konsentrasi akibat paparan konten singkat yang terus-menerus. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa manfaat membaca perlu dipahami berdasarkan bukti ilmiah dan tidak dapat langsung dianggap sebagai solusi untuk seluruh gangguan konsentrasi.
Penjelasan Adam merujuk pada penelitian berjudul Short- and Long-Term Effects of a Novel on Connectivity in the Brain yang mengamati perubahan konektivitas otak setelah seseorang membaca novel. Penelitian tersebut melibatkan 19 peserta yang menjalani pemeriksaan menggunakan teknologi functional magnetic resonance imaging atau fMRI selama 19 hari berturut-turut. Pada lima hari pertama, peneliti mengumpulkan data awal mengenai aktivitas otak peserta sebelum kegiatan membaca dimulai. Selanjutnya, para peserta diminta membaca bagian tertentu dari sebuah novel setiap malam selama sembilan hari. Pemeriksaan otak dilakukan pada pagi hari berikutnya untuk melihat perubahan konektivitas antardaerah otak setelah aktivitas membaca. Setelah novel selesai dibaca, pengamatan tetap dilanjutkan selama lima hari untuk mengetahui apakah perubahan yang ditemukan masih bertahan. Rancangan penelitian tersebut memungkinkan para ilmuwan membandingkan kondisi otak sebelum, selama, dan setelah peserta menjalani kegiatan membaca.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan konektivitas fungsional pada sejumlah jaringan otak yang berkaitan dengan pemrosesan bahasa dan pengalaman sensorik. Salah satu perubahan ditemukan pada area yang berhubungan dengan kemampuan memahami cerita dan mengolah informasi yang diterima melalui bahasa. Peneliti juga mengamati perubahan konektivitas pada wilayah otak yang berperan dalam representasi pengalaman tubuh dan sensasi. Temuan tersebut menarik karena ketika membaca novel, seseorang tidak hanya mengenali kata, tetapi juga membayangkan situasi, tindakan, dan pengalaman yang dialami tokoh dalam cerita. Pembaca perlu menghubungkan berbagai peristiwa, mengingat informasi sebelumnya, serta memahami hubungan antara karakter untuk mengikuti perkembangan alur. Proses tersebut melibatkan berbagai fungsi kognitif yang bekerja secara bersamaan selama kegiatan membaca berlangsung. Namun, peningkatan konektivitas yang terlihat melalui pemindaian otak belum secara langsung membuktikan adanya peningkatan kecerdasan atau daya ingat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Adam Prabata, hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas membaca cerita panjang dapat memberikan rangsangan terhadap jaringan otak yang berhubungan dengan pemahaman dan pengolahan pengalaman. Ia menyoroti bahwa membaca novel memungkinkan seseorang mengikuti perspektif karakter yang memiliki latar belakang, pemikiran, dan pengalaman berbeda. Aktivitas tersebut berkaitan dengan konsep perspective-taking, yakni kemampuan memahami situasi dari sudut pandang orang lain. Selain itu, terdapat konsep embodied semantics yang menggambarkan keterlibatan representasi sensorik dan motorik ketika seseorang memahami bahasa serta membayangkan pengalaman tertentu. Dalam kegiatan membaca, proses ini dapat muncul ketika pembaca membayangkan gerakan, suasana, atau peristiwa yang digambarkan melalui kalimat. Penelitian lain mengenai kebiasaan membaca fiksi juga menemukan hubungan positif dalam skala kecil antara aktivitas tersebut dan sejumlah kemampuan kognitif, terutama empati serta pemahaman terhadap kondisi mental orang lain. Meski begitu, besarnya manfaat dapat berbeda pada setiap individu dan masih dipengaruhi oleh jenis bacaan, kebiasaan membaca, serta karakteristik pembaca.
Istilah brain rot sendiri digunakan secara populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap penurunan kualitas perhatian dan aktivitas berpikir akibat konsumsi konten digital yang dianggap kurang menantang secara berlebihan. Istilah tersebut bukan diagnosis medis resmi, melainkan ungkapan yang berkembang dalam budaya internet dan percakapan mengenai kesehatan digital. Kebiasaan berpindah dari satu video pendek ke video lainnya dapat membuat seseorang terbiasa menerima rangsangan informasi secara cepat dan terus berganti. Dalam situasi tertentu, pola penggunaan media digital yang tidak terkendali dapat mengganggu waktu belajar, istirahat, serta kemampuan mempertahankan perhatian pada tugas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama. Membaca novel menawarkan pengalaman berbeda karena pembaca perlu mengikuti alur yang berkembang secara bertahap dan mengingat informasi dari bagian sebelumnya. Aktivitas ini juga memberikan kesempatan untuk mengurangi gangguan dari notifikasi dan pergantian konten yang berlangsung tanpa henti. Namun, belum ada bukti bahwa membaca novel secara khusus dapat menyembuhkan kondisi yang disebut brain rot, sehingga manfaatnya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan kognitif.
Bagi masyarakat yang ingin mulai membangun kebiasaan membaca, langkah sederhana dapat dilakukan dengan memilih novel yang sesuai dengan minat pribadi. Bacaan dengan tema menarik biasanya lebih mudah dipertahankan karena pembaca memiliki dorongan untuk mengetahui kelanjutan cerita. Waktu membaca dapat dimulai dari sekitar 10 hingga 15 menit setiap hari sebelum ditingkatkan secara bertahap sesuai kenyamanan. Menyediakan lingkungan yang tenang dan mengurangi penggunaan telepon genggam selama membaca dapat membantu seseorang memusatkan perhatian pada isi buku. Pembaca juga dapat mencoba merangkum alur cerita atau mendiskusikan karakter untuk memperdalam pemahaman terhadap bacaan. Tidak ada ketentuan bahwa seseorang harus menyelesaikan satu novel dalam waktu tertentu untuk memperoleh manfaat, karena konsistensi dan keterlibatan dalam aktivitas membaca lebih penting daripada mengejar jumlah halaman. Selain itu, menjaga tidur yang cukup, melakukan aktivitas fisik, dan membatasi penggunaan media digital yang mengganggu rutinitas tetap diperlukan untuk mendukung kesehatan otak secara menyeluruh.
Ke depan, penelitian mengenai hubungan membaca dan kesehatan otak masih memerlukan pengembangan dengan melibatkan jumlah peserta yang lebih besar serta pengamatan dalam jangka waktu lebih panjang. Studi yang melibatkan 19 peserta memberikan gambaran awal mengenai perubahan konektivitas otak, tetapi belum cukup untuk memastikan dampak membaca novel terhadap pencegahan penurunan fungsi kognitif. Para ilmuwan juga perlu membandingkan manfaat membaca dengan kegiatan lain, seperti mempelajari keterampilan baru, berolahraga, atau melakukan aktivitas sosial yang menstimulasi pikiran. Meski memiliki keterbatasan, temuan tersebut memperkuat alasan untuk mempertahankan kegiatan membaca sebagai bagian dari gaya hidup yang aktif secara intelektual. Di tengah semakin mudahnya masyarakat mengakses hiburan digital, novel dapat menjadi alternatif yang membantu seseorang menikmati informasi secara lebih mendalam dan tidak terburu-buru. Kebiasaan membaca juga dapat dikembangkan melalui dukungan keluarga, sekolah, perpustakaan, serta komunitas literasi yang menyediakan akses terhadap berbagai jenis bacaan. Dengan menjadikan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan berkelanjutan, masyarakat berpeluang memperoleh manfaat bagi kemampuan memahami cerita, memperluas perspektif, dan menjaga keterlibatan otak dalam kegiatan yang membutuhkan perhatian lebih panjang.




