Yerusalem, 30 September 2026 – Ratusan warga Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Rabu (30/9/2026), bertepatan dengan perayaan Sukkot. Menurut pejabat Wakaf Islam Yerusalem, mereka memasuki kawasan melalui Gerbang Mughrabi dengan pengawalan polisi Israel. Sejumlah peserta terlihat melakukan doa, ritual keagamaan, bernyanyi, dan menari di dalam kompleks. Kegiatan tersebut berlangsung di tengah pengamanan ketat di kawasan Kota Tua Yerusalem. Wakaf Islam menyatakan praktik ritual Yahudi di kompleks itu bertentangan dengan pengaturan status quo historis yang berlaku di tempat suci tersebut.
Kunjungan dalam jumlah besar telah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya seiring rangkaian perayaan Sukkot. Data Wakaf Islam yang dikutip sejumlah laporan menyebut lebih dari 1.500 orang memasuki kompleks pada Minggu, lebih dari 1.700 pada Senin, dan sedikitnya 1.400 pada Selasa. Pada 29 September, rekaman dari lokasi juga memperlihatkan ratusan orang memasuki kompleks Al-Aqsa dan kawasan pemakaman Bab al-Rahma dengan pengawalan aparat Israel. Mereka melakukan ritual keagamaan dan membawa tanaman yang berkaitan dengan perayaan Sukkot. Peningkatan jumlah kunjungan tersebut membuat situasi di sekitar kompleks kembali menjadi perhatian.
Pada Selasa, Pemerintah Yerusalem Palestina juga melaporkan ratusan warga Israel memasuki Al-Aqsa melalui Gerbang Mughrabi. Sejumlah peserta disebut melakukan ritual dan doa berdasarkan tradisi Yahudi, termasuk bernyanyi serta bertepuk tangan secara berkelompok. Pada saat bersamaan, pengamanan di sekitar Al-Aqsa dan Kota Tua diperketat. Akses dan pergerakan jemaah Palestina juga dilaporkan mengalami pembatasan. Situasi tersebut berlangsung setelah sehari sebelumnya 1.731 orang dilaporkan memasuki kompleks Al-Aqsa.
Kompleks Al-Aqsa merupakan salah satu lokasi keagamaan paling sensitif di Yerusalem. Bagi umat Islam, kawasan tersebut merupakan tempat suci ketiga setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Sementara bagi umat Yahudi, lokasi yang dikenal sebagai Temple Mount itu merupakan tempat paling suci dalam tradisi mereka. Berdasarkan pengaturan status quo historis, Wakaf Islam Yerusalem yang terkait dengan Kementerian Wakaf Yordania mengelola kompleks tersebut, sementara Israel mengendalikan keamanan dan akses. Perubahan praktik ibadah maupun pengaturan akses di kawasan itu berulang kali memicu ketegangan politik dan keagamaan.
Ketegangan meningkat selama rangkaian hari raya Yahudi pada September. Pada Senin (28/9), Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir juga memasuki kompleks Al-Aqsa bersama sejumlah besar warga Israel. Sehari kemudian, Ben-Gvir mengunjungi Masjid Ibrahimi di Hebron bersama ratusan orang dalam rangka Sukkot. Kunjungan pejabat Israel ke Al-Aqsa selama ini mendapat kecaman dari Palestina karena dinilai dapat mengubah status quo kawasan. Pemerintah Israel sebelumnya menyatakan kebijakan resmi terkait status quo di tempat suci tersebut tidak berubah.
Pihak Palestina menyatakan peningkatan kunjungan dan pelaksanaan ritual Yahudi di dalam kompleks sebagai ancaman terhadap status historis dan hukum Al-Aqsa. Imam Masjid Al-Aqsa, Ikrima Sabri, juga memperingatkan peningkatan aktivitas selama hari raya Yahudi dapat memperbesar ketegangan. Sementara itu, Malaysia pada Rabu mengecam kunjungan massal tersebut dan menyerukan masyarakat internasional serta Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil langkah untuk menjaga status quo. Perbedaan pandangan mengenai hak akses dan ibadah di kompleks tersebut tetap menjadi salah satu isu paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Sukkot berlangsung mulai 26 September hingga 2 Oktober 2026 dan menjadi periode ketika jumlah warga Israel yang memasuki kompleks Al-Aqsa meningkat. Situasi keamanan di Kota Tua Yerusalem karena itu diperkirakan tetap mendapat perhatian selama rangkaian perayaan berlangsung. Pengamanan dan pembatasan akses di sekitar kawasan juga menjadi sorotan karena berdampak terhadap aktivitas warga Palestina dan jemaah Muslim. Kompleks Al-Aqsa telah berulang kali menjadi titik ketegangan yang dapat memicu reaksi lebih luas di wilayah Palestina maupun kawasan Timur Tengah. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada pengaturan akses, pelaksanaan ritual, serta langkah otoritas Israel dan Wakaf Islam dalam menjaga situasi di kawasan tersebut.




