Jakarta, 28 Agustus 2026 – Israel tengah mempertimbangkan untuk mengeluarkan perwakilan Inggris dari Civil-Military Coordination Center (CMCC) yang dipimpin Amerika Serikat dan berlokasi di Kiryat Gat. Rencana tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Israel dan Inggris terkait kebijakan permukiman Israel di Tepi Barat.
CMCC merupakan pusat koordinasi internasional yang berperan dalam mendukung pelaksanaan gencatan senjata serta berbagai upaya stabilisasi dan pemulihan Gaza. Inggris saat ini menjadi salah satu negara dengan delegasi terbesar di pusat tersebut setelah Amerika Serikat.
Israel Siapkan Langkah Balasan
Pertimbangan untuk mengeluarkan pejabat Inggris disebut berkaitan dengan sikap London terhadap kebijakan Israel di wilayah Palestina.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar sebelumnya telah memperingatkan Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband bahwa Israel tidak akan membiarkan langkah-langkah yang dianggap sebagai hukuman terhadap negaranya tanpa memberikan respons.
Perselisihan tersebut terutama berkaitan dengan rencana Israel memperluas permukiman di kawasan E1, yang mendapat kecaman Inggris karena dinilai dapat mengancam prospek pembentukan negara Palestina dan solusi dua negara.
Selain kemungkinan mengeluarkan perwakilan Inggris dari CMCC, Israel disebut sedang mempertimbangkan sejumlah langkah lain sebagai respons terhadap kebijakan London.
Inggris Peringatkan Dampak Pengusiran
Pemerintah Inggris menanggapi kabar tersebut dengan memperingatkan bahwa pengeluaran perwakilan mereka dari pusat koordinasi dapat mengganggu upaya bersama untuk memperbaiki kondisi di Gaza.
Inggris menegaskan tetap berkomitmen menjalankan rencana perdamaian 20 poin untuk Gaza. London juga menyatakan akan terus bekerja bersama Amerika Serikat, Israel, mitra internasional, dan badan-badan PBB melalui pusat koordinasi tersebut.
Menurut pemerintah Inggris, mengeluarkan Inggris maupun mitra lainnya dari CMCC justru berpotensi melemahkan upaya bersama yang sedang berjalan.
Inggris Ambil Sikap Keras soal Permukiman
Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah Inggris menyatakan akan menyiapkan sejumlah langkah sebagai respons terhadap kebijakan permukiman Israel.
London sebelumnya menuntut pemerintah Israel menghentikan rencana pembangunan di kawasan E1. Inggris juga menyatakan akan menyiapkan langkah komprehensif untuk menanggapi kebijakan Israel, termasuk kemungkinan sanksi terhadap pihak yang terlibat dalam perluasan permukiman.
Kebijakan tersebut membuat hubungan Inggris-Israel semakin tegang, terutama karena London berusaha mempertahankan prospek solusi dua negara.
Belanda Sudah Dikeluarkan
Rencana terhadap Inggris muncul setelah Israel sebelumnya meminta perwakilan Belanda meninggalkan pusat koordinasi Gaza.
Israel menyatakan keputusan tersebut berkaitan dengan kebijakan pemerintah Belanda yang membatasi perdagangan produk dari permukiman Israel di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan.
Kasus Belanda menjadi preseden yang membuat kemungkinan tindakan serupa terhadap negara Eropa lainnya semakin menjadi perhatian.
Peran Inggris di Pusat Koordinasi
Inggris memiliki peran cukup besar di CMCC. Delegasi Inggris merupakan salah satu yang terbesar setelah Amerika Serikat, bahkan seorang pejabat Inggris disebut menjabat sebagai wakil komandan dari jenderal Amerika yang memimpin pusat tersebut.
Karena itu, pengeluaran Inggris berpotensi memengaruhi koordinasi internasional di pusat tersebut, terutama dalam pelaksanaan agenda stabilisasi Gaza dan koordinasi dengan berbagai mitra.
Masa Depan CMCC Jadi Sorotan
Perkembangan ini menambah tekanan terhadap mekanisme internasional yang dibangun untuk membantu pelaksanaan kesepakatan terkait Gaza.
Hingga kini, pengusiran perwakilan Inggris masih berupa pertimbangan dan belum menjadi keputusan final. Inggris juga masih menyatakan komitmennya untuk bekerja melalui CMCC bersama negara-negara dan organisasi internasional lainnya.
Israel sedang mempertimbangkan pengeluaran perwakilan Inggris dari CMCC di Kiryat Gat sebagai respons atas meningkatnya ketegangan terkait kebijakan permukiman Israel di Tepi Barat. London memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat mengganggu upaya perdamaian dan stabilisasi Gaza, sementara hubungan kedua negara terus memanas akibat perbedaan kebijakan mengenai permukiman dan masa depan Palestina.





